163. KAU TAK AKAN TAHU

Posted: 8 Maret 2012 in Catatan Runa ᔝ, Renungan Untuk Kita
Tag:, ,

Alkisah di suatu negeri burung, tinggallah bermacam-macam keluarga
burung. Mulai dari yang kecil hingga yang besar. Mulai dari yang bersuara
lembut hingga yang bersuara menggelegar. Mereka tinggal di suatu pulau nun
jauh di balik bukit pegunungan.

Sebenarnya selain jenis burung masih ada hewan lain yang hidup di sana.
Namun sesuai namanya negeri burung, yang berkuasa dari kelompok burung.
Semua jenis burung ganas, seperti, burung pemakan bangkai, burung Kondor,
burung elang dan rajawali adalah para penjaga yang bertugas melindungi dan
menjaga keselamatan penghung negeri burung.

Burung-burung kecil bersuara merdu, bertugas sebagai penghibur. Kicau
mereka selalu terdengar sepanjang hari, selaras dengan desau angin dan
gesekan daun. Burung-burung berbulu warna warni, pemberi keindahan.

Mereka bertugas bekeliling negri melebarkan sayapnya, agar warna-warni
bulunya terlihat semua penghuni. Keindahan warnanya menimbulkan
kegembiraan.
Dan rasa gembira bisa menular bagai virus, sehingga semua penghuni merasa
senang.

Pada suatu ketika, seekor induk elang tengah mengerami telur-telurnya.
Setiap pagi elang jantan datang membawa makanan untuk induk elang.
Akhirnya,
di satu pagi musim dingin telur-telur mulai menetas. Ada 3 anak elang yang
nampak kuat berdiri. Dua anak elang hanya mampu mengeluarkan
kepalanya dari
cangkang telur harus berakhir dalam paruh sang ayah.

Dengan tangkas, elang jantan mengoyak cangkang telur lalu mematuk-matuk
calon anak yang tak jadi. Perlahan-lahan sang induk memberikan
potongan-potongan tubuh anaknya ke dalam paruh mungil anak-anak elang.
Kejam…? Ini hanya masalah kepraktisan. Untuk apa terbang dan mencari
makan
jauh-jauh jika ada daging bangkai di dalam sarang. Sebagai hewan, elang
hanya mempunyai naluri dan akal tanpa nurani. Inilah yang membedakan
manusia
dan hewan.

Waktu berjalan terus, hari berganti hari. Anak-anak elang yang berbentuk
jelek karena tak berbulu, kini mulai menampakkan keasliannya. Bulu-bulu
halus mulai menutupi daging di tubuh masing-masing. Kaki kecil anak-anak
elang sudah mampu berdiri tegak. Walau kedua sayapnya belum tumbuh
sempurna.

Induk elang dan elang jantan, bergantian menjaga sarang. Memastikan tak
ada ular yang mengincar anak-anak elang dan memastikan anak-anak elang tak
jatuh dari sarang yang berada di ketinggian pohon.

Suatu pagi, saat induk elang akan mencari makan dan bergantian dengan
elang jantan menjaga sarang. Salah seekor anak elang bertanya:
“Kapankah aku bisa terbang seperti ayah dan ibu?”

Induk elang dan elang jantan tersenyum, bertukar pandang lalu elang
jantan berkata: “Waktunya akan tiba, anakku. Jadi sebelum waktu itu tiba,
makanlah yang banyak dan pastikan tubuhmu sehat serta kuat”. Usai sang
elang
jantan berkata, induk elang merentangkan sayapnya lalu mengepakkan
kuat-kuat.

Hanya dalam hitungan yang cepat, induk elang tampak menjauhi sarang.
Terlihat bagai sebilah papan berawarna coklat melayang di awan. Anak-anak
elang, masuk di bawah sayap elang jantan. Mencari kehangatan kasih sang
jantan.

Waktu berjalan terus, musim telah berganti dari musim dingin ke musim
semi. Seluruh permukaan pulau mulai menampakan warna-warni dedaunan.
Bahkan
sinar mentari memberi sentuhan warna yang indah.

Anak-anak elang pun sudah semakin besar dan sayapnya mulai ditumbuhi
bulu-bulu kasar. Suatu ketika seeor anak elang berdiri di tepi sarang,
ketika ada angin kencang, kakinya tak kuat mencengkram tepi sarang
sehingga
ia meluncur ke bawah. Induk elang langsung merentangkan sayang dan
mendekati
sang anak seraya berkata: “Rentangkan dan kepakan sayapmu kuat-kuat!”

Tapi rasa takut dan panik menguasai si anak elang karenanya ia tak
mendengar apa yang dikatakan ibunya. Elang jantan menukik cepat dari jauh
dan membiarkan sayapnya terentang tepat sebelum si anak mendarat di tanah.
Sayap elang jantan menjadi alas pendaratan darurat si anak elang.

Si anak elang yang masih diliputi rasa panik dan takut tak mampu
bergerak. Tubuhnya bergetar hebat. Induk elang, dengan kasih memeluk sang
anak. Menyelipkan di bawah sayapnya dan memberikan kehangatan. Sesudah si
anak tenang dan tak gemetar, induk elang dan elang jantan membawa si anak
kembali ke sarang.

Peristiwa itu menimbulkan rasa trauma pada si anak elang. Jangankan
berlatih terbang dengan merentangkan dan mengepakkan sayap. Berdiri di
tepi
sarang saja ia sangat takut. Kedua saudaranya sudah mulai terbang dalam
jarak pendek. Hal pertama yang diajarkan induk dan elang dan elang jantan
adalah berusaha agar tidak mendarat keras di dataran.

Lama berselang setelah melihat e dua saudaranya berlatih, si elang yang
pernah jatuh bertanya pada ibunya:
“Adakah jaminan aku tidak akan jatuh lagi?”
“Selama aku dan ayahmu ada, kamilah jaminanmu!” jawab si induk elang
dengan penuh kasih.
“Tapi aku takut!’ ujar si anak
“Kami tahu, karenanya kami ta memaksa.” Jawab si induk elang lagi.
“Lalu apa yang harus kulakukan agar aku beraai?” tanya si anak
“Untuk berani, kamu harus menghilangkan rasa takut!”
“Bagaimana caranya?”
“Percayalah pada kami!” Ujar elang jantan yang tiba-tiba sudah berada di
tepi sarang.

Si anak diam dan hanya memandang jauh ke tengah lautan. Tiba-tiba si
anak elang bertanya lagi.
“Menurut ibu dan ayah, apakah aku mampu terbang keseberang lautan?”
Dengan tenang si elang jantan berkata: “Anakku kalau kau tak pernah
merentangkan dan mengepakkan sayapmu, kami tidak pernah tahu, apakah kamu
mampu atau tidak. Karena yang tahu hanya dirimu sendiri!”

Lalu si induk elang menambahkan: “Mulailah dari sekarang, karena langkah
kecilmu akan menjadi awal perubahan hidupmu. Semua perubahan di mulai dari
langkah awal, anakku!”

Si anak elang diam tertegun, memandang takjub pada induk elang dan elang
jantan. Kini ia sadar, tak ada yang tahu kemampuan dirinya selain dirinya
sendiri. Kedua orang tuanya hanya memberikan jaminan mereka ada dan selalu
ada, jika si anak memerlukan.

Didorong rasa bahagia akan cinta kasih orang tuanya, si elang kecil
berjanji akan berlatih dan mencoba. Ketika akhirnya ia menggantikan elang
jantan menjadi pemimpin keselamatan para penghuni negeri burung, maka
tahulah ia, bahwa kesuksesan yang diraihnya adalah di mulai saat tekad
terbangun untuk melangkah. Sukses itu tak pernah ada kalau hanya sebatas
tekad. Tapi tekad itu harus diwujudan dengan tindakan nyata walau di mulai
dari langkah yang kecil.

Iklan
Komentar
  1. pokoknya kite mesti terus MOVE ON ya run..
    jangan cuma ngarep aja..
    tapi buktikan kalo kita BISA..
    *halah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s