155. Inikah Yg Dinamakan Keadilan?

Posted: 17 Februari 2012 in Catatan Runa ᔝ, Orang Tua (Ayah Ibu), Renungan Untuk Kita
Tag:, , , ,

Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian kriminal di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman saya ngobrol langsung dengan seorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana. Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang megira gambaran orang yang akan saya temui.

Well,, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah satu supir membawa seorang anak menghadap saya. Yup, benar seorang anak berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan.

Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh supirnya itu. Sebelum masuk penjara, ternyata ia adalah juara kelas disekolahnya, juara menggambar, jago bermain suling, jaura mengaji dan azan ditingkat kanak-kanak, kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik sekolah, didalam penjarapun nilainya sekolahnya tercatat kedua terbesar tinggkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh ? dengan rencana pula ?

Kasus ini terjadi ketika arif sebut saja nama anak ini begitu, belum genap berusia 7 tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah be*** , dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar belakangnya karena si ayah enggan membayar uang ‘keamanan’ yang begitu tinggi. Berita ini rupanya sampai ditelinga arif. Malam esok harinya setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat preman mangkal tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya.

“Siapa yang membunuh ayah saya ?” Teriaknya kepada orang yang ada ditempat itu.
“Gue, trus kenapa ?” ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil disambut gelak tawa dibelakangnya.
Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menusukkan pisau keperut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang kerumah setelahnya. Akhirnya seleseai sholat subuh esok paginya ia dibawa kekantor polisi.

“Arif nih bikin repot petugas di lapas !” ujar kepala lapas yang ikut menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata sejak dipenjara 2 tahun lalu, anak ini sudah 3 kali melarikan diri dari selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.

Pelarian pertama dilakukan dengan cara yang tak terpikirkan oleh siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari lapas itu dijemput oleh mobil kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam arif menyelinap kedalam salah satu kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk arif. Ia berhasil keluar dari penjara.

Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah membaca artikel tentang fermentasi makanan tape. (ingat loh waktu wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung hawa panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras. Kebetulan pula dilapas anak ini disediakan tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan uli arif selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkan kedinding tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah 4 bulan tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah liat. Satu bulan lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk arif. Ia keluar penjara ke 2 kalinya.

Pelarian ketiganya dilakukan ala mission imposible. Arif yang ditugasi membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai solusi. Besi yang berfungsi sebagai pegangan ember itu disampingnya didalam kamarnya. Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas karena tidak pernah satupun penjaga berani memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tau-tau ia sudah di luar. 3-0 untuk arif.

Lantas kenapa ia masih tertangkap lagi ? Rupanya kepintaran itu masih ada berada disebuah kepala bocah. Pelarian-pelariannya didorong dari rasa kangennya terhadap Ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke rumah sang Ibunda tercinta. Jadi dari lepas tangerang ia menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki sekian kilometer dengan 1 tujuan ‘pulang’.

Karena itu pula pada pelarian ketiga, kepala lapas yang juga seorang Ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput arif. Hasilnya dua hari kemudian arif kembali lagi ke lapas sambil membawa surat untuk kepala lapas yang ditulisnya sendiri.

“Ibu kepala, arif minta maaf .. tapi arif kangen sama Ibu arif” tulisannya singkat.

Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi saya tidak lantas berfikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, Polisi bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap arif) pastinya saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada ditempat seperti ini. Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang lain. sayangnya si arif itu cuma anak pedagang sayur miskin, sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib. Apa itu yang namanya KEADILAN ?!

Bayangkan … dengan begitu hebatnya si arif keluar dari penjara hanya untuk menemui Ibunya tersayang..
Makanya gan.. bro.. sis.. khususnya yg jauh dari orang tua, apa salahnya kalo kita sering pulang ke hum untuk menengok sang Ibu tercinta, meskipun banyak makan waktu dan biaya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s