149. Gadis kecil di pesta ultah (mari belajar bersyukur)

Posted: 31 Januari 2012 in Catatan Runa ᔝ, Orang Tua (Ayah Ibu), Renungan Untuk Kita
Tag:, , , ,

Hari ini adalah hari ulang tahun ketiga keponakanku…,peri kecil yang amat ku nanti kelahirannya. Aku sudah mempersiapkannya sejak lama, ku pilih kartu undangan lucu dan menarik untuk mengundang teman-teman datang,dan aku memilih sebuah restoran cepat saji sebagai tempat untuk merayakannya.

Sore ini tampak cerah..,aku dan keluarga serta beberapa kerabatku datang lebih awal untuk mempersiapkan tempat dan sedikit acara yang akan kami adakan. Beberapa tamu undangan mulai berdatangan sampai pada akhirnya semua tamu telah datang.

Suasana begitu meriah dan ramai di penuhi suara tepuk tangan dan nyanyi,tak kalah ramai nya dengan suara tawa anak – anak dan kegembiraan mereka dengan meloncat dan berlari….
Di tengah kegembiraan itu…tanpa sengaja aku menoleh ke halaman luar lewat dinding kaca..dan mata ku bertumpu pada seorang gadis kecil berpakaian lusuh tanpa alas kaki sedang berdiri terpana.Sepertinya dia juga menikmati kegembiraan kami…,sesekali dia menelan air liurnya dan aku menangkap rasa lapar tergambar pada wajahnya yang tirus.

Aku terhenyak melihatnya…,aku pandangi kembali wajahnya yang mungil..senyumnya yang polos..kemudian pandanganku memutar menatap keramaian di sekelilingku…,betapa suatu keadaan yang sungguh berbeda…

Terbayang masa kecilku..,ketika aku dan ibu ku melintasi sebuah rumah.,rumah yang begitu ramai..,banyak anak kecil seusiaku dengan berpakaian bagus bernyanyi dan bertepuk tangan..,tertawa riang..berloncat-loncat..,sesaat aku berhenti dan terpaku menatapnya…,ketika tangan ibuku menarikku..aku menatap mata ibu ku dan bertanya…’itu apa bu.., kenapa banyak anak-anak di sana..?’ Ibu ku menghela nafas..,sambil menatapku ia berkata..’itu pesta ulang tahun..,anakku…’
‘Ulang tahun…,kapan aku ulang tahun,bu…?’..mendadak timbul sebersit harapan bahwa suatu saat aku pun akan merasakan kegembiraan pada pesta ulang tahunku.
Ibu ku berjongkok..,sambil memegang pundakku ia berkata..”setiap tahun pada setiap tanggal kelahiranmu..itulah hari ulang tahun mu nak.., tapi maafkan ibu karena sampai saat ini ibu belum mampu mengadakan pesta untuk ulang tahun mu…’
Aku melihat kesedihan pada raut wajah ibuku… “Ayo nak kita pulang….’ Aku mengikuti langkah ibu ku sambil beberapa saat sesekali aku masih menoleh rumah yang ramai itu.., rumah yang ibu ku katakan ada pesta ulang tahun…,,pesta yang ramai..,pesta yang penuh kegembiraan..
.
Aku melangkah keluar menghampiri gadis kecil itu..,sedikit membungkuk aku menyapanya..”hallo adik kecil..”..gadis kecil itu tersentak dan membalikkan badannya bergegas pergi. AKu memegang pundaknya dan dia tampak ketakutan. ”Ayo masuk…,kamu mau ikut pesta ulangtahun ini kan?” Mata beningnya menatapku dengan ragu…,aku mengulangi pertanyaanku,”kamu mau ikut pesta ulang tahun ini kan…?” Ia mengangguk dan aku menggandengnya masuk…

Aku memintanya duduk lalu memberinya satu porsi makanan.Wajah lugunya terlihat gembira tapi mata beningnya seperti menyimpan sesuatu…
“Makanlah dik…” dia menatap makanan itu lalu menggelengkan kepalanya.
“Kamu tidak suka makanan itu..?” Ia kembali menggelengkan kepalanya.
“kenapa…?” “Aku ingat ibu”..,jawabnya
“Aku mau memberi makanan ini untuknya..”
“Ada apa dengan ibumu..?”
“Ibuku sakit…,aku tidak tahu apa ibuku akan mempunyai kesempatan untuk bisa makan makanan enak seperti ini…” Dia tertunduk dan dari mata beningnya aku melihat airmatanya mengalir…

Aku tersentak mendengarnya…terbayang olehku saat ibuku terbaring sakit,apapun yang aku sediakan tidak lagi bisa membuatnya berselera untuk makan. Demikian juga seringkali saat aku membayar mahal untuk satu porsi makanan yang aku makan..,terbayang olehku ibu yang duduk di dipan kayu sedang menghitung lembar-lembar uang lusuhnya.Ketika aku hampiri dia berkata..,”maafkan ibu nak,..karena ibu tidak pernah bisa memberimu makanan yang enak dan bergizi..,mungkin uang ini hanya cukup untuk kita makan beberapa hari saja..”
Setiap kali aku melihat ibu menghitung uang belanjanya yang lusuh..,aku membatin dalam hatiku bahwa jika aku besar nanti aku akan memberi ibu makanan-makanan yang enak dan bergizi.
Aku juga ingat..bahwa aku berjanji dalam hati bahwa jika aku besar nanti aku mau membeli sebuah rumah yang nyaman untuk kami tinggal..,mau membeli sebuah mobil dan mengajak ibu jalan-jalan.

Aku berjuang untuk mewujudkan harapanku itu..tapi ternyata aku tak pernah sempat membelikan ibu sebuah rumah yang nyaman apalagi membeli sebuah mobil untuk mengajaknya jalan-jalan.

Aku bekerja apa saja yang penting halal..,aku mencari uang karena ingin bisa kuliah dan bekerja di kantoran.Setamat SMA aku juga bekerja dan malamnya aku kuliah,tidak jarang sepulang kuliah aku belajar dengan penerangan lampu minyak yang redup. Aku bahkan jarang membelikan ibu makanan enak dan bergizi seperti janjiku waktu aku kecil..karena saat aku belikan ibuku selalu berpesan agar sebaiknya uangku itu ditabung untuk biaya kuliahku. Aku mengikuti sarannya, menabung untuk biaya kuliahku maklumlah gajiku tidak seberapa,tapi ternyata hal ini akhirnya terkadang menjadi sebuah penyesalan karena aku tidak pernah bisa memberinya apa-apa.

“Om…” Sapaan gadis kecil itu membuyarkan lamunanku.
“Boleh aku bawa pulang makanan ini…?” AKu mengangguk.
Aku memesan satu porsi lagi dan memberikan padanya,”ini untuk Ibu mu…”
Bola mata bening gadis kecil itu berbinar..sambil tersenyum ia mengucapkan terimakasih padaku. Dengan menenteng bungkusan makanan,langkah kecilnya berlari menjauh dariku….

Saat kita tertawa gembira dalam pesta….ada begitu banyak sesama kita yang menangis dan kesepian..
Saat kita menyia-nyiakan waktu dan uang sekolah kita….ada begitu banyak sesama kita yang tidak mampu untuk sekolah..
Saat kita membayar mahal untuk satu porsi makanan yang kita makan…ada begitu banyak sesama kita yang tidak mampu membeli makanan walau hanya sekedar mengganjal rasa lapar…,mungkin uang yang kita keluarkan untuk membayar satu porsi makanan kita sama besar dengan penghasilan mereka satu minggu…
Saat kita mengeluarkan uang untuk membeli sepotong pakaian mahal ada banyak sesama kita yang bahkan tidak mampu membeli pakaian..
Saat kita tidak bersyukur atas pekerjaan yang kita miliki…ada banyak sesama kita yang tidak mempunyai kesempatan untuk bekerja…
Saat kita tidak bersyukur atas kesehatan kita…ada banyak sesama kita yang sakit dan tidak mampu berobat..
Saat kita tidak bersyukur atas tubuh kita yang normal…ada begitu banyak sesama kita yang cacat….
Saat kita kurang bersyukur atas pendamping hidup yang kita miliki..atas istri atau suami…ada begitu banyak orang yang sampai saat ini masih berjuang untuk bertemu dengan pendamping hidupnya…
Saat kita menyia-nyiakan orantua dan kurang memperhatikannya…ada begitu banyak anak-anak yang sejak lahir bahkan tidak pernah tahu siapa orangtuanya…
Saat kita menyia-nyiakan anak dan kurang memperhatikannya…ada begitu banyak orang-orang yang tidak pernah bisa melahirkan anak-anaknya…

Iklan
Komentar
  1. Anonim berkata:

    good…cerita siapan pun ini gk penting, pesannya untuk berbagi menyentuh..
    perayaan itu gk penting..yang penting kadonya…hehehehe *kidding

  2. nivan berkata:

    Super sekali gan, kebetulan besok saya ultah n ga pernah ngerayain pesta ultah 😦

  3. Gusti Anom berkata:

    ini tulisan ente brader?bagus bgt 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s