138. A taste of cherry

Posted: 9 Desember 2011 in Catatan Runa ᔝ, Renungan Untuk Kita
Tag:, ,

Abbas Khiarostami pernah bikin heboh pemerintah Iran karena membuat
film A Taste of Cherry.

Kisahnya tentang seorang Iran paruh baya yang berkeliling mencari
orang yang bisa membantunya untuk bunuh diri. Yang ia minta sederhana
saja. Ia akan menggali tanah kubur di tempat yang telah ia pilih, lalu
malam hari ia akan berbaring di dalam kubur itu, setelah ia minum obat
tidur dalam dosis mematikan. Ia hanya minta orang yang membantunya
untuk datang di pagi hari dan menutup kuburan itu kalau ia memang
telah mati.

Nyaris semua orang menolak. Ada satu guru agama dari Afganistan yang
ia mintai bantuan malah memberinya ceramah tentang betapa bunuh diri
adalah dosa tak terampunikan dalam Islam.

Sang tokoh bilang, saya tak butuh ceramah, saya butuh bantuan. Sang
tokoh merasa bahwa ia tak menemukan makna hidup, bahwa hidup ini
sia-sia belaka.
Betapa hidupnya sunyi, tak ada lagi yang memberinya alasan untuk tetap
hidup. Tak ada agama atau omongan orang yang bisa memuaskannya.
Bukankah adalah haknya sepenuhnya untuk memilih berhenti hidup?

Akhirnya ada seorang tua yang bersedia menolong sang tokoh bunuh diri.
Orang tua itu sama sekali tak keberatan dengan pilihan sang tokoh.
Tapi orang tua itu bercerita tentang pengalaman hidupnya, suatu
ketika, saat ia merasa ia lebih baik mati saja. Orang tua itu mencoba
bunuh diri, tapi gagal.

Di pagi setelah kegagalannya bunuh diri, si orang tua merasakan dunia
seakan baru pertama kali. Hangatnya mentari, indahnya semburit cahaya
fajar, kicau bung, segalanya dalam dunia ini begitu indah.

“Apakah engkau lupa betapa enaknya rasa buah cherry?” Tanya si orang
tua itu kepada sang tokoh. Seakan si tua ingin berkata bahwa,
mengapakah engkau ingin meninggalkan rasa buah cherry, ingin
meninggalkan semua keindahan ini?

Ya, mensyukuri buah cherry (mensyukuri segala aspek terkecil alam
hidup ini) mestinya bisa jadi salah satu cara untuk mengobati luka
hati. Alangkah ajaibnya hidup ini, alangkan indahnya!

Tapi manakah yang lebih patut disyukuri, rasa buah cherry itu,
ataukah lidah yang membuat kita bisa mengecap rasa buah cherry itu?

———————————————————-
Dikutip dari buku Life Goes On

Iklan
Komentar
  1. FIRUS 1/2 ERROR berkata:

    Intinya orang yang mau bunuh diri itu, tidak bisa menyukuri apa2 yang sudah di beri Allah, matanya seakan buta oleh penderitaan-penderitaan, masalah, atau apapun itu sehingga lupa kalau hidupnya itu sudah sebuah anugerah terindah, seandainya dia bisa mensyukuri hidup ini, seperti menikmati rasa buah cherry tadi itu contoh terkecilnya dari rasa bersyukur, ,, ,,

    T,T tolong aku bapander apa gerang, ,, ,,

  2. FIRUS 1/2 ERROR berkata:

    Bunuh diri bukan solusi, ,, ,,
    Bunuh diri sama aja game over, wkwkwkk, bagaya, ,, ,,
    Mantap run, ,, ,,

  3. akbar berkata:

    Hubungan Cheri sm bunuh diri ap???
    Kayaknya kalo cm crta keindahan rasa buah ceri org tetep bulat pngn bnuh diri……. Plis coment

  4. Caleb Luperiasie berkata:

    Keuntungan dari memahami orang lain adalah kita lebih banyak pilihan tentang cara bersikap dan memiliki peluang lebih baik untuk berkomunikasi dan menjalin hubungan baik dengan orang lain.

  5. Gavin Pasagranto berkata:

    Bahwa rasa cinta dan rindu yang mendalam dari seseorang ayah kepada anaknya akan mengalahkan semua ego yang ada.

  6. Arumaarifu berkata:

    bunuh diri bukan cara yang tepat menghilangkan masalah….coba telusuri masalah tersebut siapa tahu ada jalan keluar…. 🙂

  7. Falzart Plain berkata:

    ckckckck… yang lebih indah itu ya… Lidah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s