135. Pemburu yang Tamak

Posted: 8 November 2011 in Catatan Runa ᔝ, Renungan Untuk Kita
Tag:,

Pada satu hari, seorang pemburu telah menangkap seekor burung murai. Dengan perasaan sedih burung murai itu merayu kepada si pemburu. Burung itu bertanya, ” Apa yang ingin engkau lakukan pada diriku?”

Lelaki itu menjawab ” Akan aku sembelih engkau dan makan engkau sebagai lauk”

“Percayalah, engkau tidak akan begitu berselera memakanku dan aku tidak akan mengenyangkan engkau. Jangan engkau makan aku, tetapi akan aku beritahu engkau tiga nasihat yang lebih baik dari engkau memakanku ”

Si burung berjanji akan memberikan nasihat pertama ketika berada dalam genggaman orang itu. Yang kedua akan diberikannya kalau ia sudah berada di cabang pohon dan yang ketiga ketika ia sudah mencapai puncak bukit.

Terpengaruh dengan rayuan si murai itu, si pemburu pun bersetuju. Lalu dia meminta nasihat pertama. Kata burung itu, “Kalau kau kehilangan sesuatu, meskipun engkau menghargainya seperti hidupmu sendiri, jangan menyesal.”

Orang itu pun melepaskannya dan burung itu segera melompat ke dahan. Di sampaikannya nasihat yang kedua, “Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal, apabila tak ada bukti.”

Kemudian burung itu terbang ke puncak gunung. Dari sana ia berkata, “Wahai manusia malang ! Jika tadi engkau sembelih aku, nescaya engkau akan dapati dalam tubuhku ada dua biji mutiara. Berat setiap mutiara itu adalah dua puluh gram.”

Terperanjat sungguh si pemburu itu mendengar kata-kata si burung murai.. Si pemburu berasa dirinya telah tertipu. “Bodohnya aku! Bagaimana aku boleh terlepas peluang yang begitu baik!” Pemburu itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya. Namun katanya, “Setidaknya, katakan padaku nasihat yang ketiga itu!”

Si burung murai menjawab,”Alangkah tololnya kau meminta nasihat ketiga sedangkan yang kedua pun belum kau renungkan sama sekali. Sudah kukatakan padamu agar jangan kecewa kalau kehilangan dan jangan mempercayai hal yang bertentangan dengan akal. Kini kau malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang tak masuk akal dan menyesali kehilanganmu. engkau fikirkan, hai orang yang dungu. Aku, dagingku, darahku dan buluku tidak logik seberat dua puluh gram. Oleh itu, bagaimana mungkin akan ada dalam perutku dua biji mutiara yang masing-masing seberat dua puluh gram? Aku tidak cukup besar untuk menyimpan dua butir mutiara besar! Kau tolol! Oleh kerananya kau harus tetap berada dalam keterbatasan yang disediakan bagi manusia.”
Murai menyambung lagi, “Nasihatku yang ketiga adalah, memberi nasihat kepada sedozen bahlul seperti engkau ini adalah seperti menabur benih di tanah usang, tidak akan memberi faedah!”

Kemudian terbanglah si burung murai yang bijak itu meninggalkan si lelaki yang termenung akan ketamakannya itu.

Moral:
Itulah contoh betapa halobanya anak Adam yang jadi kelabu mata dari mengetahui kebenaran.
Jika seseorang menginginkan yang serba banyak atau terlalu panjang angan-angannya atas sesuatu yang lebih, nescaya hilanglah sifat qana’ (merasa cukup dengan yang ada). Dan tidak mustahil ia menjadi kotor akibat haloba dan hina akibat rakus sebab kedua sifat itu mengheret kepada pekerti yang jahat untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan mungkar, yang merosakkan maruah (harga diri).

Iklan
Komentar
  1. Agung Putra berkata:

    bijak banget burungnya 😀

  2. kagetari88 berkata:

    keep posting teman…menarik sangaaaaad…

  3. FIRUS 1/2 ERROR berkata:

    Benar sangat dalam, ternyata aku masih belum bisa meredam napsu dan amarah ku, aku masih rakus akan sesuatu yang tak pasti tapi mulai sekarang akan kucoba untuk merubahnya, makasih atas artikel yang benar-benar bermanfaat selama ini, makasih, .. ..
    Makin ngefans aja aku saya runna, hehehe

  4. Falzart Plain berkata:

    mestinya diikhlaskan saja si burung itu, ya…

  5. Outbound Malang berkata:

    postingan yang keren..salam sukses sob..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s