104. Ikan dan Kera

Posted: 17 Mei 2011 in Catatan Runa ᔝ, Renungan Untuk Kita
Tag:, , ,

Tersebutlah pada suatu masa hidup 2 makhluk bersahabat, seekor kera dan seekor ikan. Sang kera hidup di atas sebatang pohon yg tumbuh di pinggir sungai – tempat hidup si ikan. Mereka sering meluangkan waktu untuk ngobrol dan bertukar pikiran bersama-sama. Kadangkala kelakar terjadi pula di antara mereka. Sungguh persahabatan yang indah.

Hingga pada suatu saat… Kera sedang bertengger di atas dahan tertinggi. Dari sana ia melihat sesuatu di kejauhan. Ya! Banjir bandang di hulu sungai. Dan dengan kecepatan yang tinggi banjir bandang siap segera menerjang ke tempat yang lebih rendah… Tempat tinggal kera dan ikan!

Segera sang kera melompat ke bawah, memanggil sang ikan seraya bekata: “Hoi ikan!! Dimana kau?” “Aku di sini kera”, jawab sang ikan. “Cepat kemari… Banjir bandang melanda dari hulu sungai sana. Cepatlah kau ikut aku. Biar kuselamatkan kau. Akan kuamankan kau bersamaku di puncak dahan tertinggi pohon ini”.

“Tapi kera…” Jawab sang ikan…

“Sudahlah!! Tak ada waktu untuk berdebat! Yang penting kau aman.” Tegas kera sambil segera menyambar sang ikan dari dalam air. Setelah itu segera ia beranjak, melompat ke dahan tertinggi sambil memeluk erat sang ikan sahabatnya.

Tak lama, datanglah banjir bandang, mendera semua benda di permukaan rendah di seputar sungai. Satu jam lamanya banjir mendera semua wilayah di sekitar sungai. Sampai akhirnya banjir surut. Selama itu pula kera memeluk erat ikan sahabatnya, demi keselamatan sang ikan.

Setelah reda… Sang kera melompat kembali ke bawah, hendak mengembalikan sang ikan ke sungai tempat tinggalnya. Dibukanya tangannya, dan terlihat sang ikan masih tertidur menutup mata.

“Hai ikan, bangun!” serunya. Tapi ikan diam.. Ikan… Ikan… bangunlah! Banjir bandang sudah berlalu. Ayo melompatlah kau ke sungai, rumahmu”. Tapi ikan tak menyahut.

“IKAN!!!… IKAN!!” Kera berseru keras. Tersadarlah ia… Ikan telah mati. Mati akibat pelukannya. Manalah ada ikan biasa yang suka hidup di luar air? Sekalipun banjir bandang melanda, air tetaplah tempat ternyaman bagi ikan. Dan bukan pelukan hangat sang kera di atas dahan yg jauh dari air.

Itulah yang hendak disampaikan sang ikan. Tapi kera tak perduli. Dengan cara pandangnya sendiri, ia hendak menyelamatkan ikan. Namun bukannya selamat, sang ikan malah mati kekeringan.

Seringkali dalam kehidupan ini kita gegabah menentukan sesuatu yang terbaik bagi orang lain.

Kehidupan orang lain tidaklah sama dengan kehidupan kita. Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik untuk orang lain.

Mencoba menolong orang lain jika dilakukan dengan cara yang salah justru bisa menghancurkan orang yang kita tolong

Iklan
Komentar
  1. jyaaaahh,
    Si dia siapa??
    #pura2bego
    Hahahahah

  2. obinhut berkata:

    Mampir… :-0

  3. Firus by Hacker© berkata:

    #xxcontinouexx : ᓧwow, .. .. Hehehe

    #runna : ᓧwow juga, .. .. Gak erti maksud mu run

  4. ageng berkata:

    mantep nih, hidup terkadang tak sesimpel yg kita pikirkan…

  5. dede6699 berkata:

    sipp cerita’a.. Sempet mikir juga..di pohon mana ada air..eh mati akhir’a..hadduuhh

  6. xxcontinuexx berkata:

    saya copas dari komentar bro firus : Tapi bagaimana dengan orang tua yang memaksakan
    hidup anaknya seperti ini dan itu, tidak sesuai kehendak
    si anak.
    Hmm.. Seperti sekarang saya alami, saya teringat kata teman dan ortu saya : kalau ga mau nurut sama kata2 orang tua kamu bakalan hidup ga enak. jadi bagaimana ngikuti kehendak sendiri atau nurut sama ortu? Tapi pendapat saya dengan ortu saya sangat jauh berbeda.

  7. Firus by Hacker© berkata:

    bujur jua, .. ..
    Tapi bagaimana dengan orang tua yang memaksakan hidup anaknya seperti ini dan itu, tidak sesuai kehendak si anak, .. ..
    Atau seorang kekasih terhadap pasangannya, .. ..
    ᓵaduh, aku jd keingatan ama dia, karna kataku ini baik untuknya tapi ternyata buruk baginya, .. ..
    ᓵmaaf, maaf, .. ..

  8. 1noel berkata:

    ya betul..

  9. dwisty berkata:

    Untung gak ikan ama kucing..hahaha abis tu ikan dimakan..

  10. perasaan pernah denger cerita ini, tpi dari siapa yaaa..
    #mikir7jam
    Hahahah, tpi mantap run..

  11. Chufi berkata:

    gue lebih melihara kucing dari pada Monyet / ikan, LOL kok? Wkwkwkwk postingnnya mantap, ini buatan tangan asli ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s