90. Hanya Sebuah Koin Penyok

Posted: 6 April 2011 in Catatan Runa ᔝ, Renungan Untuk Kita
Tag:, ,

Alkisah, seorang lelaki keluar dari
pekarangan rumahnya, berjalan
tak tentu arah dengan rasa putus
asa. Sudah cukup lama ia
menganggur.
Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para
tetangganya sibuk memenuhi
rumah dengan barang-barang
mewah, ia masih bergelut
memikirkan cara memenuhi
kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.
Anak-anaknya sudah lama tak
dibelikan pakaian, istrinya sering
marah-marah karena tak dapat
membeli barang-barang rumah
tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi
ini, dan ia tidak yakin bahwa
perjalanannya kali inipun akan
membawa keberuntungan,
yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba
kakinya terantuk sesuatu. Karena
merasa penasaran ia membungkuk
dan mengambilnya.”Uh, hanya
sebuah koin kuno yang sudah
penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia
membawa koin itu ke sebuah bank.
“Sebaiknya koin in Bapak bawa
saja ke kolektor uang kuno,” kata
teller itu memberi saran. Lelaki
itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor.
Beruntung sekali, si kolektor
menghargai koin itu senilai 30
dollar. Begitu senangnya, lelaki
tersebut mulai memikirkan apa
yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini.
Ketika melewati sebuah toko
perkakas, dilihatnya beberapa
lembar kayu sedang diobral. Dia
bisa membuatkan beberapa rak
untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya
tempat untuk menyimpan
jambangan dan stoples. Sesudah
membeli kayu seharga 30 dollar,
dia memanggul kayu tersebut dan
beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati
bengkel seorang pembuat mebel.
Mata pemilik bengkel sudah
terlatih melihat kayu yang
dipanggul lelaki itu. Kayunya
indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan
pada waktu itu ada pesanan
mebel. Dia menawarkan uang
sejumlah 100 dollar kepada lelaki
itu. Terlihat ragu-ragu di mata
laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat
menawarkannya mebel yang sudah
jadi agar dipilih lelaki itu.
Kebetulan di sana ada lemari yang
pasti disukai istrinya. Dia
menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk
membawa lemari itu. Dia pun
segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati
perumahan baru. Seorang wanita
yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela
dan melihat lelaki itu mendorong
gerobak berisi lemari yang indah.
Si wanita terpikat dan menawar
dengan harga 200 dollar. Ketika
lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya
menjadi 250 dollar.
Lelaki itupun setuju. Kemudian
mengembalikan gerobak ke
pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia
terima. Ia merogoh sakunya dan
menghitung lembaran bernilai 250
dollar. Pada saat itu seorang
perampok keluar dari semak-
semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat
dan berlari mendekati suaminya
seraya berkata, “Apa yang
terjadi? Engkau baik saja kan ?
Apa yang diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya
dan berkata, “Oh, bukan apa-apa.
Hanya sebuah koin penyok yang
kutemukan tadi pagi”.
Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus
tenggelam dalam kepedihan yang
berlebihan? Janganlah kita
menyesali telah kehilangan
sesuatu yang tidak pernah kita
miliki. Hanya Tuhan lah pemilik alam
semesta beserta isinya.

Iklan
Komentar
  1. firus by hacker berkata:

    somebody, .. ..
    I wanna be somebody, .. ..

    o_o

  2. bersyukur dia msih selamat, semua hanya titipan-Nya.

    benol :angel

  3. fitr4y berkata:

    tapi,, itu 250 dolar .. hikz 😉

    haha iya kak

  4. Arumaarifu berkata:

    kalo belom rezeki kenapa harus disesali…:-)

    setujuh gan

  5. wuaaah, mantaaf bgt nih run ceritanya,
    One jdi inget dulu pernah nemu gameboy, stelah skian lama gak ada yg ngaku, trus ada temen yg pngen gameboy itu, dan akhirnya di jual 100rb,
    Tpi duit yg 50rb nya ilang,
    Ampe uring2an nyari duit itu,
    Pas baca postingan ini, one jdi malu sendiri..
    Haahah

    nah lho buka kartu haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s