89. Siapakah Ibunya??

Posted: 5 April 2011 in Catatan Runa ᔝ, Renungan Untuk Kita
Tag:, , , ,

Setelah menyetir terlalu lama
sepulang dari kampung saya
singgah sebentar di sebuah
restoran. Begitu memesan
makanan, seorang anak lelaki
berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan saya. “Abang mau
beli kue?” Katanya sambil
tersenyum. Tangannya segera
menyelak daun pisang yang
menjadi penutup bakul kue
jajanannya. “Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan,” jawab
saya ringkas dan akhirnya dia
berlalu.
Pesanan tiba, saya langsung
menikmatinya. Gak sampe 20
menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri calon pembeli
lain. Saya lihat dia menghampiri
sepasang suami istri. Mereka juga
menolak tawaran anak itu, dan dia
berlalu begitu saja. “Abang sudah
makan, tak mau beli kue saya?” tanyanya tenang ketika
menghampiri meja saya lagi.
“Abang baru selesai makan Dik,
masih kenyang nih,” kata saya
sambil menepuk-nepuk perut. Dia
pun pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia
meletakkan bakulnya yang masih
penuh.
Setiap yang lalu dia tanya, “mau
beli kue saya Bang, Pak… Kakak,…
Ibu.” Halus budi bahasanya pikir saya. Sambil memperhatikan,
terbersit rasa kagum dan kasihan
di hati saya melihat betapa
gigihnya dia berusaha. Tidak
nampak keluh kesah atau tanda-
tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya
enggan membeli kuenya. Setelah
membayar harga makanan dan
minuman, saya terus pergi ke
mobil. Saya buka pintu,
membetulkan duduk dan menutup pintu. Namun belum sempat saya
menghidupkan mesin, anak tadi
sudah berdiri di samping mobil. Dia
tersenyum kepada saya. Saya
turunkan kaca jendela, dan
membalas senyumannya. “Abang sudah kenyang, tapi mungkin
Abang perlu bawa kue saya buat
oleh-oleh untuk adik- adik, Ibu
atau Ayah abang,” katanya sopan
sekali, sambil tersenyum. Sekali
lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun
pisang penutupnya. Saya tatap
wajahnya, bersih dan bersahaja.
Terpantul perasaan kasihan di
hati. Lantas saya buka dompet,
dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya. “Ambil ini
Dik! Abang sedekah… Tak usah
Abang beli kue itu.” Saya berkata
ikhlas karena perasaan kasihan
yang meningkat mendadak. Anak
itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih
terus berjalan kembali ke kaki
lima restoran. Saya gembira
dapat membantunya. Setelah
mesin mobil saya hidupkan.
Saya memundurkan. Alangkah kagetnya saya melihat anak itu
mengulurkan Rp20.000,-
pemberian saya itu kepada
seorang pengemis buta. Saya
terkejut, saya hentikan mobil, dan
memanggil anak itu. “Kenapa Bang, mau beli kue ya?” tanyanya.
“Kenapa Adik berikan duit Abang
tadi pada pengemis itu? Duit itu
Abang berikan ke Adik!” kata
saya tanpa menjawab
pertanyaannya. “Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah
kalau dia tahu saya mengemis.
Kata emak kita mesti bekerja
mencari nafkah karena Allah.
Kalau dia tahu saya bawa duit
sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Mak pasti
marah. Kata Mak mengemis kerja
orang yang tak berupaya, saya
masih kuat Bang!” katanya
begitu lancar. Saya heran
sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal
saya terus bertanya berapa harga
semua kue dalam bakul itu.
“Abang mau beli semua ?” dia
bertanya dan saya cuma
mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata. “Rp 25.000,- saja
Bang….” Dengan gembira dia
memasukkan satu persatu kuenya
ke dalam plastik, saya ulurkan Rp
25.000,-. Dia mengucapkan
terima kasih dan berlalu dari pandangan saya.
Ya Tuhan!. Saya hanya bisa
bertanya-tanya di dalam hati,
siapakah wanita berhati mulia
yang melahirkan dan mendidik
anak itu ?. Sesungguhnya saya kagum dengan sikapnya. Dia
menyadarkan saya, siapa kita
sebenarnya…….
Jangan pernah melihat seseorang
hanya dari penampilannya…
kebaikan dan kejahatan akan selalu ada di sekitar kita.
Tergantung apakah kita mampu
untuk mengambil hikmah dari
semua yg pernah kita alami. Cerita
diatas telah menggambarkan,
bahwa tiada kesulitan yg tidak bisa dipecahkan… asal kita mau
tuk berusaha. Hanya ketulusan
dan kemuliaan hati, yang bisa
membentengi kita dari perbuatan
kotor.
* dari seorang teman…

Iklan
Komentar
  1. bohan berkata:

    ak gemeter bacanya bro,,ak salut ma anak kecil itu,,

    waduh bu sampe gemetar :hihi

  2. sial, gagal amanin pertamax..
    Hahahah,
    Tpi stidaknya masuk podium
    Nitip akh,
    Ada gravity terbaru nih,
    http://setiaonebudhi.wordpress.com/2011/04/05/gravity-cracked-v1-50-6702-ayoo-kita-nge-tweet/

    meluncur ke tkp way 😀

  3. Arumaarifu berkata:

    lagi2 saya tergugah sama tulisanmu run… tiap pagi saya menyempatkan u/ bca postingan inspiratif kamu…

    ini bukan tulisan aku rum, aku cuma berusaha ngumpulin cerita2 kek gini.. Dan makasih dah nyempatin buat baca hehe

  4. Arumaarifu berkata:

    amankan dulu pertamax

    mantap haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s