50. Wanita yang mengambil keputusan

Posted: 7 Februari 2011 in Catatan Runa ᔝ, Renungan Untuk Kita
Tag:, ,

Sebut saja dia adalah seorang wanita bernama “Nanzanin.” Wanita berusia dua puluh empat tahun yang selalu hidup di dalam rumah. Nanzanin adalah seorang guru les mengajar anak – anak SD. Hidup Nanzanin dipenuhi dengan tawa riang dan canda bersama anak – anak itu. Namun, setiap tahun Nanzanin selalu merenung, tepatnya akhir tahun.
“Apakah aku akan tetap menjadi guru les?” gumam Nanzanin.
sampai pada suatu ketika dia mengambil keputusan untuk meninggalkan murid – muridnya demi mengejar cita – citanya yang lain menjadi seorang penulis novel. Tiap hari Nanzanin disibukkan oleh tulisan – tulisannya. Dari ke sepuluh murid itu, Nanzanin menyisakan satu – satunya murid kesayangannya bernama Siska.
Kenapa Nanzanin tetap mempertahankannya? karena murid itu begitu mengingatkan Nanzanin pada masa kecilnya dulu. Periang, dan bersemangat! Setiap minggu dia mengajar les murid itu dengan senang hati, bahkan bisa dikatakan bukan guru les melainkan teman sebaya. Sisca seorang gadis mungil berumur 13 tahun.
suatu hari, Nanzanin berniat melepaskan murid kesayangan itu dikarenakan takut suatu hari dia tak sanggup berpisah dengan Siska. Karena sisca telah dianggap sebagai adiknya sendiri. Saat itu, Nanzanin sudah berpamitan pada Siska dan orangtuanya untuk mengundurkan diri, dan Nanzanin menekuni dunia tulis menulisnya lagi.
semalam suntuk dia berpikir sampai tak dapat tidur lelap memikirkan nasib murid kesayangannya. Padahal orang tua Siska mampu mencari guru lain selain Nanzanin yang lebih baik. Keputusan telah diambil Nanzanin, dia datang lagi ke rumah Siska dan menemui kembali orang tuanya.
“Tante, dulu saya pernah menangis karena telah melepaskan murid – murid saya. Sepertinya saya tak bisa melepas Siska, jadi saya berniat untuk membatalkan niat itu.” ucap Nanzanin sambil menangis pelan.
Ibu Siska tersenyum, “Tidak apa – apa, teruskan saja kalau kamu memang masih mau.”
alangkah bahagianya hati Nanzanin, hubungan antara guru dan murid semakin akrab. sebulan berlalu, Nanzanin disibukkan oleh kegiatanya menulis novel yang harus dia kirim tiap bulan.
hingga akhirnya terlupa pada janjinya untuk tetap terus mengajar Siska demi mengejar target dan uang. Karena jika dibandingkan dengan honor les yang tak seberapa membuat Nanzanin semakin lupa pada kwajibannya mengajar Siska.
Sampai akhirnya, ketika Nanzanin merasa kelelahan dan tak mampu menulis cerita per bulannya. Dia rindu pada kehidupan sebelumnya, yang tak membuatnya stress oleh waktu.
wanita itu, bernama Nanzanin tersadar dari kesalahannya menelantarkan murid kesayangannya.
dan akhirnya memutuskan untuk mengajar dengan tekun lagi muridnya, sedangkan menulis tetap dia lakukan namun tak mengejar target. Karena hal itu telah membuatnya kehilangan sesuatu yang berharga yaitu”Ketenangan jiwa.””
story from sis Kucing5555

Iklan
Komentar
  1. firus by hacker berkata:

    hadir, .. ..
    Hikz, hikz, .. ..
    Menangis air mata diriku, .. ..

    🙂

  2. zhanaz45 berkata:

    BIasanya pria yang mengambil keputusan..

    yomai bos

  3. setiaonebudhi berkata:

    pertamax
    hadir 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s