48. Si Kaya dan Si Miskin

Posted: 5 Februari 2011 in Catatan Runa ᔝ, Renungan Untuk Kita
Tag:, ,

Alkisah di sebuah kota kecil di sebuah negara di Eropa pada abad pertengahan. Terdapat seorang anak yang merupakan anak dari tuan tanah yang kaya raya di kota tersebut, Rich namanya. Anak tersebut diantar menggunakan mobil mewah ke mana saja ia berpergian, termasuk ke sekolah.
Ada seorang anak dari keluarga yang kurang mampu, yang tinggal di pinggiran kota, bernama Poor. Kedua orang tua Poor amat mengasihi anaknya. Mereka membelikan sepeda untuk Poor dengan harapan agar Poor tidak terlalu lelah saat pergi/pulang bersekolah (lokasi sekolah Poor amat jauh dari tempat tinggalnya).
Setiap hari, saat pulang sekolah, Poor senang singgah dulu di taman yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Ia senang memanjat pohon Oak besar di taman tersebut. Kadang-kadang, ia tidur di bawah pohon tersebut.
Suatu hari, saat ia sedang asik memanjat pohon oak, Rich lewat lengkap dengan mobil mewah dan sopirnya. “Andai aku bisa seperti dia, kaya dan ke mana-mana naik mobil, tanpa harus berlelah-lelah mengayuh sepeda”, gumam Poor. Tak berapa lama kemudian, mobil tersebut berhenti dan mundur menghampiri si Poor. “Mau apa sih orang ini, mau mengolok-olokku yah??” pikir Poor.
Lalu, kaca jendela mobil itu terbuka perlahan-lahan. “Halo, perkenalkan, namaku Rich. Tampaknya seru sekali kamu memanjat pohon itu. Aku ingin sekali memanjatnya juga”, kata Rich dengan wajah yang tampak sedih. Merasa diejek, Poor kemudian memakinya “Hei!!! jangan mentang-mentang kamu anak orang kaya, jadi kamu bisa sesuka hati mengejekku!!! Kalo memang mau manjat yah manjat aja!!! Memangnya tidak punya kaki??!!!”. Kemudian sang sopir turun dari mobilnya dan mengambil kursi roda dari bagasi mobil. Lalu ia menuntun tuan mudanya turun dari mobil dan membantunya duduk di kursi roda. Ternyata Rich menderita kelumpuhan pada kedua kakinya sejak lahir.
“Kamu kira enak menjadi orang kaya?? Andai aku dapat menukar semua kekayaan ku dengan sepasang kaki yang sehat… aku rela…” “Aku ingin sekali berjalan di atas kedua kakiku, mengayuh sepeda, memanjat pohon oak ini…” ucap Rich.”
Pesan Moral:
seringkali kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki dan iri akan milik orang lain. Padahal belum tentu orang yang memiliki apa yang ingin kita miliki, lebih bahagia dari kita sendiri.
story from fuma_wong

Iklan
Komentar
  1. tunjung pratiwi kusumaning tyas berkata:

    segala sesuatu yang telah kita miliki hendaklah slalu di syukuri apapun itu bentuknya,kekayaan juga tidak akan dibawa klo kita mati

  2. firus by hacker berkata:

    pesan moralnya, .. ..
    Benar-benar buat aku termenung, .. ..
    Aku gak bisa, .. ..

    Aku, … ..
    Ak, .. ..
    Uuu, … ….

    =_=

  3. yuditav69 berkata:

    kaya tapi sakit.. Prcuma..

    🙂

  4. rig4 berkata:

    Sip, jadi makin sering bersyukur lo dah bc px luna,

    runa >_<

  5. AnggA berkata:

    mantap. Ajib ceritax

    sip

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s