Stop Using The Word “AUTISM” On our daily Jokes

Posted: 31 Januari 2011 in Catatan Runa ᔝ, Kesehatan, Renungan Untuk Kita
Tag:, , ,

KENAPA SIH GAK BOLEH BECANDA PAKE KATA “AUTIS LO!”?”
“written by: Silly on http://sillystupidlife.com
also posted
http://ngerumpi.com and http://silly.blogdetik..com

Siang itu aku sibuk membaca buku resep makanan khusus untuk anak autistik. Ya, Anakku memang tidak bisa makan sembarang makanan. Salah-salah… anakku bisa berputar-putar seperti gasing jika ada zat dalam makananya yang tidak cocok untuk dikonsumsi oleh anakku.
Ditangan sebelah kiri, ada buku Food diary anakku… yang aku tulis sejak pertama kali dia kuperkenalkan pada makanan padat… berisi apa saja yang dia cocok untuk tubuhnya,… reaksi alergynya dan mana saja makanan yang tidak cocok dan menyebabkan dia overwhelmed.
Kebayang gak?… mungkin enggak, jadi ijinkan saya bercerita…
Diusia 4 bulan misalnya, kuberikan jeruk bayi pada anakku,… Eh, gak lama kemudian dia muntah dan seluruh tubuhnya seperti dipenuhi ulat bulu, dan membuat saya bergidik ngilu.
Pernah juga aku beri dia tomat. Tapi kemudian, berhari-hari dia diare dan uring-uringan.
Kuberi dia susu instant,… tapi anakku malah jingkrak2, Mengepak-ngepakkan tangannya, persis seperti orang gila!!! Dia berputar-putar tanpa merasa lelah,… dan kemudian mengamuk ketika tidak mengerti bagaimana cara mengendalikan tubuhnya yang tidak mau diam.
Ah, sudahlah, life must go on bukan?. Besides, I’m happy to have her in my life
Kulirik sekali lagi food diarynya… hmm, hari ini aku harus mencoba memberinya 5ml putih telur tanpa kuningnya, karena 7 hari yg lalu, dia sudah sedikit kebal ketika kukenalkan pada telur ayam ini.
Baru saja hendak memasak, tiba2 kudengar jeritannya… Kucari anakku, tapi tidak kutemukan. Aku keruang setrika… dan disana kutemukan anakku sedang nangkring di atas lemari, dengan setrika panas yang menempel di punggung tangannya, yang baru saja dicabut oleh BS-nya karena kupanggil untuk membantuku memasak.
Kini, strika panas itu masih nempel diatas punggung tangan kirinya.!!!
Oh… My… God!!! *panik*
Dari punggung tangannya mengepul asap. Bau daging panggang begitu segar menempel dihidungku.
Kuangkat setrikanya… dan, aduh Tuhan,… aku tidak kuat melihatnya. Sebagian dagingnya menempel dibalik gosokan panas itu… 😦 😦 😦
AAAAAARRRRGGGHHHH… Sumpah kalau saja ini bukan anakku,… Aku pasti sudah mati berdiri karena ketakutan… Melihat daging dari punggung tangannya, yang menempel pada setrika itu… itu sudah berubah menjadi putih kekuningan…
Dan luka di tangannya… juga sudah berubah menjadi putih seperti daging ayam matang 😦
Aku menjerit sekencang-kencangnya… Kupanggil Baby sitternya yang tadi aku suruh untuk membantuku didapur… lalu dengan kesetanan, ku kebut mobilku ke UGD Rumah Sakit terdekat, untuk dirawat secara intensif.
Begitu anakku segera tertangani… tiba2 aku kehilangan seluruh tenagaku.
AKU PINGSAN!!!
Hari itu, lagi-lagi aku sedang mempersiapkan makanannya. Memang, Khusus untuk makanannya, aku memutuskan untuk memasak sendiri, karena hanya aku yang tahu berapa gram atau mililiter… porsi makanan yang masih bisa ditoleransi oleh tubuh anakku.
Sedang membersihkan kompor yang kecipratan makanan… tiba-tiba, lagi-lagi kudengar bunyi benda jatuh.
GEDUBRAK!!!… Buru-buru kucari sumber suara itu, memastikan bahwa itu bukan anakku…
Damn!!. Lagi-lagi anakku. Oh Tuhan… dia baru saja terjatuh dan sepertinya kepalanya terantuk pada pinggir tembok, sehingga belakang kepalanya sobek dan berdarah. Dia masih berusaha berdiri, meskipun sempoyongan…. Dan sambil berjalan, dia menggaruk luka di kepalanya yang bocor… sehingga darahnya semakin banyak yang mengalir.
Sementara darahnya terus aja mengucur deras, dia terus saja berjalan sambil mengoceh. Entah apa yang diracaukannya… Tangannya berlumuran darah… Punggung bajunya pun juga sudah berubah menjadi merah oleh darah.
Tapi dia tidak menangis… Dia hanya berjalan sambil menggaruk luka menganga yang ada dibelakang kepalanya.
Aku menjeritttt sekuat2nya. Kepalanya kututupi dengan lap kompor yang tadi aku pegang.
Tapi itupun gak lama… karena dalam sekejap, lap kompor itu sudah berubah menjadi merah kehitaman. Aku berteriak panik,…
“mbak, minta handuk… handuk… darahnya tambah banyak. Cepat mbak… CEPATTTT!!!”
*panik semua panik kayak orang lagi kena kebakaran*
Dan lagi2 kukebut mobilku ke rumah sakit, langsung menuju UGD. Disana, dokter yang sudah terbiasa menangani anakku sudah siap menunggu dan segera menjahit kepala anakku.
Dia tidak menangis sama sekali… hanya minta sesuatu yang bulat untuk dia pegang. Dan setelah dijahit dengan 8 (delapan) jahitan… Hatikupun sedikit lega. Seluruh persendianku serasa dicopot dari tubuhku, dan tanpa sadar…Lagi-lagi aku hilang keseimbangan…
AKU PINGSAN
Terlalu banyak cerita haru dan berurai airmata yang kami harus jalani. Berkali-kali jantung kami harus terpacu 100x lipat manakala mereka melakukan hal-hal yang tanpa mereka sadari mencelakai diri mereka sendiri.
Tapi ini bukan keluhan kok,… karena saya selalu sadar…. Tuhan itu ARSITEK YANG AGUNG. Karyanya tidak pernah gagal. Tidak satupun makluk yang diciptakannya, yang merupakan produk gagal.
Jadi ketika dia menciptakan seorang bayi yang memiliki kekurangan, dia tidak pernah lupa untuk menitipkan KELEBIHAN pada anak ini. So, buat semua orang tua, berhentilah mengeluhkan kekurangan anak kita… mari bantu mereka untuk menemukan kelebihan mereka.
Anakku memang Autistik, tapi aku bangga setiap kali menceritakan bahwa anakku autis. Aku bangga setiap kali menceritakan bagaimana proses menangis berdarah-darah itu, sudah Tuhan rubah menjadi Senyum sukacita dan bangga yang luar biasa.
Selalu ada haru yang menyesakkan dadaku, manakala mendengarkan tangan2 mungilnya menari2 dengan lincah diatas tuts2 piano,… memainkan lagu Klasik karya Van Beethoven, seperti Symphony no.9 atau Turkish March, atau ketika mendengar dia berbicara yang hanya fasih berbahasa Inggris,… seolah yang kudegar ini adalah anak bule asli,… yang nyasar dalam tubuh putriku.
Namun, dibalik itu… Walaupun bangga… selalu tersisa rasa risih dan tidak nyaman, kalau tidak ingin dibilang tersinggung… manakala mendengar orang-orang bercanda dengan menggunakan kata “Autis”.
Minggu yang lalu, sahabatku menyelenggarakan pesta ultah disebuah resto terkenal, salah satu teman kami, sibuk dengan BB-nya, sehingga teman yang lain menegur begini…
“Tuh,… liat tuh sill… autis banget khan dia…? Kayak ANAK LOE khan yah?
“Loe marahin deh sil… marahin sil…”
“Coba loe terapi dulu nih dia,… biar sembuh kayak anak loe”
Dan semua lalu tertawa terbahak-bahak…
Saya???… hmmm… Cuma bisa senyum kecut, karena tidak ingin merusak suasana Pesta Ulang Tahun sahabat saya… *doh*
Well, saya tahu mereka hanya bercanda, namun biar bagaimanapun,… Saya sudah merasakan dan tahu betul sulitnya membesarkan anak autistik. Jadi saya mengerti ketika ada teman yang resist begitu mendengar kata ini. Tahu banget rasanya
Semoga artikel ini semakin mencerahkan teman-teman mengapa orang sepertinya terlalu over campaign dengan gerakan “Stop Using Autism on our daily jokes” ini. Semoga berkenan.
-silly-
Semoga kisah di atas bisa lebih menjaga tutur kata kita baik dalam lisan maupun tulisan.
Dan membuka hati dan pikiran bahwa bercanda menggunakan istilah autis sangatlah tidak peka.
sumber

Iklan
Komentar
  1. keren, ini yang saya cari…sungguh menginspirasi. Jika ada waktu mampir di blog majalah amatir saya ya, makasi

  2. narendra berkata:

    mungkin saya gak sadar sering mengucapkannya tp saya sadar kalau itu gak baik dan autis bukan bahan candaan. terimakasih

  3. Gusti Anom berkata:

    maaf baru mampir tukeran link yuk!!!

  4. Falzart Plain berkata:

    Autism isn’t a joke.

  5. sakti berkata:

    Anak autis perlu didampingi terus dan bakatnya diasah setajam mungkin. Karena suatu saat nanti, bakat yang setajam pisau itu akan mengiris-iris lidah mereka-mereka yang berolok-olok tentang autis… 🙂

    weh kata2nya mantap

  6. aag berkata:

    salut dgn perjuangan anda…smg TUHAN slalu memberi yang terbaik buat anda

    amin

  7. Ann berkata:

    Di balik kekurangan pasti ada kelebihan, semoga putrinya suatu saat bisa menjadi ‘orang besar’
    Salam saya

    amin

  8. ridertua berkata:

    pertamax disini

    pertaminax

  9. veera berkata:

    Hikz.
    terharu banget 😥
    alhamdulilllah selama ini aku ga pernah make kata ‘autis’ buat ngecap seseorang.
    ga tega juga klo ngomong autis gitu…

    sama 🙂

  10. zhanaz45 berkata:

    Aduhhh..

    bingung, autis itu apa sich.. 🙄

    hauk ah :p

  11. syauqie muhammad marier berkata:

    wah…sampe susah mbayanginnya

    hm ya

  12. setiaonebudhi berkata:

    temen ane udah di suruh baca, tapi gak tau dah mampir atw belum yaaa..
    hahahah 😀
    Nitip akh http://setiaonebudhi.wordpress.com/2011/01/31/photorite-sp-v6-13-viewer-dan-editor-foto-buat-hp-symbian-mu/

  13. Dyka berkata:

    hikss sedih… Kisah nyata rupax…

  14. Dyka berkata:

    hikss sedih… Kisah nyata rupax

  15. AnggA berkata:

    pagi2 ud gentayangan aj

  16. setiaonebudhi berkata:

    waaaah, temen ane mesti baca nih..
    dia doyan bgt bilang autis 😀

    ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s