35. Lupa Makan Permen

Posted: 26 Januari 2011 in Catatan Runa ᔝ, Renungan Untuk Kita
Tag:, , ,

Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang
beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama.
Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat ba nyak permen lollipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yangterlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan Bob dan Bib untukmengambil dan menikmati kelezatan mereka.
Bob sangat kegirangan melihat ba nyak nyapermen lolipop yang bisa diambil.
Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat
jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat
sangat ba nyak didepannya. Bobmengumpulkan sangat ba nyak permenlolipop
yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan
permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak
pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua
permen yang dilihatnya.
Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop.
Dia melihat gerbang bertuliskan “Selamat Jalan”.
Itulah batas akhir lembah permen lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduksekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, “Bagaimana perjalanan kamu di lembahpermen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih
menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat.” Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga.
Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu ba nyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas ranselnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya
merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu,
“Permennya? saya lupa makan!”
Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permenlolipop.
“Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya
memanggil-manggil kamu tapi
kamu sudah sangat jauh di depan saya.”
“Kenapa kamu memanggil saya?” tanya Bob.
“Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama.
Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali!”
Bib bercerita panjang lebar kepada Bob.
“Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangatkelelahan. Saya temani dia
berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami
makan bersama dan dia ba nyak menceritakan hal-hal yang lucu.
Kami tertawa bersama.” Bib menambahkan.
Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa ba nyak hal yang telah ia
lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah.
Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu,sehingga ia sampai lupa memakannya
dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk
memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.
Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadarisuatu hal
dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, “Ternyata ini bukan tentang
berapa ba nyak permen yang telah sayakumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia.
” Ia pun berkata dalam hati, “Waktu tidak bisa diputar kembali.”
Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bobpun harus melanjutkan kembali perjalanannya.
Dalam kehidupan kita, ba nyak halyang ternyata kita lewati begitu saja.
Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup.
Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibukmengumpulkan permen
tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.
Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia?
Jika saya ta nyak an pertanyaan tersebut kepada teman-teman saya,
biasanya mereka menjawab, “Saya akan bahagia………..nanti pada waktu saya sudah menikah, nanti pada waktu saya sudah punya anak, nanti saat
saya sudah memiliki rumah sendiri… nanti pada saat saya telah meraih semua
impian saya, nanti pada saat penghasilan saya sudah sangat besar, nanti…………. dan nanti……………”
Pemikiran ‘ nanti ‘ itu membuat kita bekerja sangat keras di saat ‘ sekarang ‘ .
Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kitakonsepkan tentang masa ‘ nanti ‘ bahagia. Terkadang jika saya renungkan haltersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu ba nyak hal dalam hidup ini untuk masa ‘ nanti ‘ bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapirasanya tidak pernah sampai di masa ‘ nanti ‘ bahagia itu. Ritme hidup yang sangat cepat… target-target tinggi yang harus kitacapai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu… tetap semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.
Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita
duduk menikmati keindahan tanaman atau pohon-pohon di beranda depan rumah kita, pada saat kita duduk sambil berbincang-bincang dan
mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk berdiam diri menghampiri Tuhan atau pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir terasa hidup menjadi lebih indah.
Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran;
memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari
setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah
anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan
menyadari begitu ba nyak detilkehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri.
Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupanyang ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kitamenjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah permen lolipop.”
story from orangstrees

Iklan
Komentar
  1. Falzart Plain berkata:

    Pikiran lain: Ada sesuatu yang memang harus dikejar, kejar, dan kejar. Tidak perlu melihat apa yang bisa dinikmati saat ini, cukup mengejar apa yang kita janjikan pada diri kita masing-masing saat ‘nanti’. Akan tetapi, ketika kita sudah sampai pada saat ‘nanti’ itu, jangan membohongi diri sendiri, berhentilah untuk menikmati. (Jangan terlalu sibuk tanpa punya tujuan, itu saja)

  2. Dyka berkata:

    Tadaa dyka dtg. . . He33 bnr juga, kdg kta trllu sbk bkrja mengumpulkn byk hrta tnpa prnh dpt mrasakan indahx hsl dari krja kta jika dpt d bgi dgn org ln. Wah pesan moralx bgus bngt run. Good story. . .

    sip 😀

  3. ais ariani berkata:

    aku udah pernah baca tulisan ini juga. dan seneng banget baca berulang – ulang…
    entah kenapa.. bikin aku bilang;
    “just slow down”
    🙂
    kan selaen bisa ngumpulin banyak permen, pemandangan juga bisa dinimkati.
    hehehehehe

    hu’um 🙂

  4. andry sianipar berkata:

    Wah..ceritanya penuh pesan moral neeh…semoga Bob dan Bib bisa menyadarkan kita semua tentang arti kebahagiaan yang sesungguhnya…
    amin

  5. septarius berkata:

    ..
    yup kadang orang yang terlalu terobsesi sesuatu, jadi lupa arti sebenarnya apa yang dikejar..
    hidup memang harus dinikmati.. tul gak..? ^^
    ..

    ho’oh wkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s